Rabu, 27 April 2016

Artikel Kabut Asap

ARTIKEL KABUT ASAP

Kebakaran hutan di Indonesia tahun ini diyakini akan mencatat rekor sebagai yang terparah dalam sejarah. Penyebabnya adalah fenomena el Nino yang membuat kondisi cuaca mengering dan memperpanjang kemarau.
Setiap tahun Indonesia dilanda kebakaran hutan dan kabut asap. Tapi tahun ini polusi udara yang disebabkan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan bisa mencatat rekor baru. Badan Antariksa Amerika Serikat NASA, mewanti-wanti musim kemarau yang panjang akan mempersulit upaya pemadaman. Api yang mendekap kedua pulau di tanah air itu berpotensi menjadi yang paling parah dan paling lama menyusul fenomena El Nino yang membuat kondisi cuaca menjadi lebih kering dan menghambat turunnya hujan.
Ilmuwan NASA meyakini, situasi tahun ini serupa dengan tahun 1997 yang tercatat sebagai bencana kabut asap paling parah dalam sejarah. "Kondisi di Singapura dan tenggara Sumatera serupa dengan 1997.Jika perkiraan cuaca yang memprediksi kemarau panjang bertahan, ini akan membuat kabut asap 2015 termasuk yang paling parah dalam sejarah.
Sementara itu pemerintah Indonesia sejauh ini telah menurunkan 20.000 tentara, polisi dan pemadam kebakaran ke Sumatera dan Kalimantan. Harapan terbesar buat memadamkan api adalah dengan datangnya musim hujan.
Untuk beberapa daerah di Riau, jarak pandang bahkan hanya mencapai angka 30 meter. Ini misalnya terjadi di Kabupaten Pelalawan. Sementara jarak pandang di Pekanbaru mencapai 50 meter, di Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu sejauh 100 meter, dan Dumai 200 meter.  Ukuran tersebut sangat tidak normal karena jarak pandang di Riau mestinya menyentuh minimal angka 1.000 meter ke atas.
Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti wilayah Riau makin tebal dalam beberapa hari terakhir. Saat ini kabut asap yang terpantau semakin tebal, akibatnya sejumlah daerah seperti Kota Pekanbaru dan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, jarak pandang hanya 100 meter
Pantauan BMKG menunjukkan bahwa kabut asap pekat juga menyelimuti wilayah Pelalawan dan membuat jarak pandang turun menjadi sekitar 200 meter.  Sementara jarak pandang Kota Dumai terpantau lebih baik, sekitar 800 meter.
Kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru makin tebal dalam 48 jam terakhir. Kemarin kabut asap membuat jarak pandang di Pekanbaru berkisar antara 400 meter hingga 1.000 meter dan bertambah buruk sehingga jarak pandang hanya 100 meter.
Menurut BMKG ada 674 titik panas yang terpantau di enam provinsi di Sumatera. Titik panas terbanyak terpantau di Sumatera Selatan (607 titik), Jambi (37 titik), Lampung (14 titik), Bangka Belitung (11 titik) dan Kepulauan Riau (satu titik). Di Provinsi Riau, BMKG mendeteksi empat titik panas.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Riau Edwar Sanger menyatakan kabut asap yang menyelimuti Riau berasal dari provinsi tetangga seperti Sumatera Selatan dan Jambi.Meski kabut asap di Riau masih tebal, titik panas di provinsi itu justru bukan yang terparah. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), titik panas terbanyak berada di Sumatra Selatan dengan jumlah 384 titik. Sementara di Riau hanya tercatat satu titik panas saja., Jadi kabut asap di Riau sebenarnya kiriman dari Sumtera Selatan.
Dampak Kabut Asap
Kabut asap semakin pekat akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, terutama pernafasan. Masyarakat korban kabut asap disarankan untuk tertib minum obat karena akan membantu 30 % penyembuhan.
Ketua tim kesehatan dari Rumah Sakit Eka Hospital Subianto mengatakan, terkait kondisi cuaca yang belum membaik saat ini, ia mengingatkan ke warga agar menggunakan masker untuk kegiatan di luar rumah. Tipsnya jika sudah terkena infeksi harus minum obat karena dapat membantu sekitar 30 % tapi yang terpenting yakni pencegahan karena dampaknya bisa 50 %. Pencegahan ini seperti minum suplemen, contohnya minum vitamin C yang harganya tidak terlalu mahal
Subianto menjelaskan, sebagian besar pasien mengeluh atas penurunan kondisi saluran pernapasan sejak satu bulan terakhir.  Jika dilihat secara rata-rata, sebagian besar pasien menderita infeksi saluran pernapasan sedang, belum bisa dikatakan akut.  Ada yang sudah akut tapi hanya satu hingga dua orang saja. Kemudian sakit lainnya yakni iritasi mata dan alergi kulit. Kondisi infeksi saluran pernapasan ini, sebagian besar menimpa balita dan dan lansia. Persoalannya mengapa penyakit ini agak sulit disembuhkan karena anak kecil biasanya menelan dahak, sementara lansia kesulitan mengeluarkan dahak.
Penderita penyakit akibat asap di Riau terus bertambah. Dinas Kesehatan mencatat, saat ini penderita penyakit akibat kabut asap menembus angka 70.083 penderita. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit yang mendominasi penyakit asap. Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat penderita ISPA mencapai 58.697 orang.  Kemudian pneumonia berjumlah 990 orang, asma 2.175 orang, iritasi mata 3.383 orang, dan gangguan kulit 4.298 orang. "Penyakit paling banyak yang ditimbulkan asap berada di Pekanbaru dengan 14.166 penderita," ujar Koordinator Tim Media Center Dinas Kesehatan Provinsi Riau Roziah Rossi.
Dinas Kesehatan Provinsi Riau mendesak pihak swasta untuk membantu menangani penyakit asap. PT Mitra Unggul Pusaka (PT MUP) anak perusahaan Asian Agri terus melakukan pengobatan gratis di Desa Segati dan Desa Sotol. Pengobatan dilanjutkan ke Desa Penarikan dan Desa Padang Lawas Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau. 
Asap yang sudah cukup lama menyelimuti sebagian besar Pulau Sumatera tentu saja mengakibatkan kesehatan masyarakat terganggu, khususnya gangguan ISPA . Atas hal ini, perusahaan ingin membantu meringankan beban warga dengan mengadakan pengobatan gratis secara berkelanjutan, selama masa darurat asap ini.
Dampak kabut asap tidak hanya berdampak pada kesehatan warga saja melainkan melumpuhkan sebagian besar aktivitas kota disekitar pulau Sumatera dan Riau salah satunya adalah aktivitas Bandara Udara, akibat kabut asap yang tebal mengakibatkan gagalnya beberapa penerbangan menuju maupun keluar dari daerah Sumatera dan Riau.
Meski beberapa hari terakhir ini kondisi Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Riau, mulai normal, tetap saja ada sejumlah maskapai tidak melakukan pelayanan.  Airport Duty Manager Bandara SSK Pekanbaru Ibnu Hasan mengatakan, hari ini ada 27 penerbangan yang membatalkan penerbangan gara-gara asap.
Jadi 27 penerbangan dari berbagai maskapai ini jauh-jauh hari sudah membatakan penerbangan karena asap. Rencananya semua penerbangan sudah mulai normal, termasuk 27 penerbangan itu," ucap Ibnu Hasan. Menurut Ibnu, hari ini ada Bandara Internasional SSK II Pekanbaru melayani 43 penerbangan. Semua penerbangan lancar sesuai jadwal. Ini diluar 27 penerbangan yang melakukan cancel jauh-jauh hari.
Respond dan Tanggapan Warga
Dampak kabut asap di sejumlah daerah, terutama di Sumatera dan Kalimantan, sudah darurat untuk segera ditangani. Kritik keras terhadap penanganan dampak kabut asap dari beberapa pihak sudah banyak dilontarkan, tetapi belum memberikan hasil nyata. Muak dengan cara penanganan kabut asap yang lambat, Riau memilih jalur hukum.
Sejumlah elemen masyarakat Riau bakal melakukan gugatan terhadap pemerintah pusat dan daerah karena dianggap lalai menjaga kesehatan warga Riau dari paparan asap. Bencana asap yang berkepanjangan dinilai telah melanggar hak manusia paling asasi, yaitu mendapatkan kesempatan untuk hidup sehat.
 Al-Azhar, Ketua Lembaga adat Melayu Riau dalam pertemuan di Pekanbaru mengatakan "telah membulatkan tekad melakukan tiga langkah upaya hukum, yaitu upaya class action, citizen law suit, dan legal standing sekaligus. Gugatan legal standing akan dilakukan lembaga Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (gabungan lembaga pemerhati lingkungan seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), World Wide Fund for Nature (WWF), dan lain-lain), gugatan citizen law suit oleh kelompok usaha yang dirugikan bencana asap, dan class action atau gugatan kelompok masyarakat akan dimotori oleh Lembaga Adat Melayu RiauHadir dalam pertemuan itu Riko Kurniawan, Direktur Eksekutif Walhi Riau Heri Budiman dan Iwan Syawal selaku calon penggugat dari jalur citizen law suit, Febri Siswandi dari lembaga Amanat Penderitaan Rakyat Riau, dan Made Ali dari Riau Corruption Trial.
Menurut Al Azhar, bencana asap semestinya dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa. Dampak asap sudah membuat jutaan orang menderita setiap tahun. Pemerintah merupakan pihak yang paling bertanggung jawab selain korporasi yang menyebabkan atau lalai menanggulangi kebakaran.
Menurut Al Azhar, dia tidak setuju jika kalau disebut tidak terjadi efek jera pada pelaku pembakar lahan atau hutan. Yang paling tidak memiliki efek jera adalah pemerintah. Rakyat telah memberi mandat kepada Presiden sampai jajaran di daerah untuk melindungi rakyat. Tetapi mandat itu tidak dilaksanakan. Pemerintah harusnya belajar dari kejadian yang terus berlangsung selama 18 tahun. Jadi saat ini pemerintah yang harus diberi pelajaran
Al Azhar juga mengungkapkan kekecewaan kepada Dewan Pertimbangan Presiden yang menunda rencana pertemuan dengan sekelompok organisasi di Riau, termasuk Lembaga Adat Melayu Riau (LAM) dan Walhi. Penundaan itu menandakan, pihak Wantimpres tidak menganggap penting mendapat masukan dari warga Riau.
Protes kebijakan Pemkot Jambi, Kebijakan yang tidak tegas dari Pemerintah Kota Jambi salah satunya yang mendapat kritik. Kebijakan itu mengenai kegiatan belajar-mengajar (KBM) selama masa kabut asap telah memunculkan kekhawatiran orangtua murid akan dampak kesehatan anak-anak mereka. Seluruh siswa, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas, di Kota Jambi dibiarkan tetap bersekolah di tengah pekatnya asap.
Peduli dampak kabut asap, siswa SMA Islam Bunga Bangsa Samarinda membagikan masker bagi pengguna jalan di Kota Samarinda. Menariknya, uang untuk membeli masker hasil patungan seluruh siswa sekolah yang beralamat di Jalan DI Panjaitan, Samarinda tersebut.
Tak hanya membagikan masker, para siswa juga membagikan stiker dan gantungan kunci yang berisi pesan menyambut Tahun Baru Islam.
Kabut asap akhir-akhir ini semakin pekat dan tentu saja mengganggu kesehatan. Jadi kami berinisiatif patungan mengumpulkan uang dari siswa kemudian dibelikan masker yang kami bagikan ke pengguna jalan," kata siswa SMA Islam Bunga Bangsa, Febrianti Hanuarti Saputri, Jumat (16/10/2015).
Febrianti menambahkan, kegiatan sosial ini juga untuk mengingatkan pengguna jalan, khususnya roda dua, agar selalu menggunakan masker saat berada di jalan raya. Kabut asap semakin pekat akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, terutama pernafasan.  Sekarang kan makin pekat kabut asapnya, jadi kita ingin mengingatkan warga Samarinda yang menggunakan kendaraan bermotor untuk tak pernah lepas menggunakan masker saat di jalan raya atau di luar rumah. Untuk itu kami membagikan masker-masker itu.
Kepala Sekolah SMA Islam Bunga Bangsa Rahmad Rezki, aksi sosial ini dilakukan dalam rangka menyambut tahun baru Islam. Kegiatan positif dengan aksi sosial ini diharapkan mampu menyemarakkan tahun baru Islam yang langsung dirasakan oleh siswa.  Kita ingin menyambut tahun baru Islam dengan kegiatan yang positif. Siswa kemudian berinisiatif patungan membeli masker, membuat stiker dan gantungan kunci yang kemudian dibagikan ke pengguna jalan
Ada tiga titik lokasi pembagian masker ini yakni Simpang Empat Mall Lembuswana, Simpang Empat Hotel Mesra dan di depan SMA Islam Bunga Bangsa. Target utama pembagian masker adalah pengguna jalan yang menggunakan kendaraan roda dua.
Peran Pemerintah
Aib nasional. Itulah sekiranya dua kata yang menjelaskan dengan gamblang perihal pengaruh kabut asap bagi citra Indonesia. Berbagai protes dan keluhan berdatangan dalam jumlah yang seakan tak terhingga. Bahkan di media sosial, terdapat tagar (hashtag) #TerimakasihIndonesia yang merupakan sindiran dari negara tetangga, Malaysia dan Singapura, terhadap bencana asap ini.
Sejauh ini, peran pemerintah seakan tidak maksimal dalam menanggulangi kabut asap. Beberapa kalangan menuding kurangnya kerjasama antara pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pemerintah pusat sebagai biang keladi ketidakefektivan penyelesaian masalah ini.
Begitu menyedihkan bahwa Rapat Satgas Pengendalian Nasional Operasi Darurat Penanganan Kebakaran Lahan dan Hutan yang Selasa lalu diselenggarakan di Jakarta tidak dihadiri oleh gubernur-gubernur daerah yang terkena kabut asap.
Gubernur Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan tercatat absen dengan berbagai alasan dalam rapat tersebut, membuahkan ultimatum oleh Menko Polhukam kepada mereka. Oleh Luhut, mereka disebut ‘nggak jelas.’ Terlepas dari ketidakhadiran mereka, rapat membuahkan banyak masukan untuk menanggulangi bencana. Usulan paling menarik ialah ketika TTA Nyarong menyampaikan langkah-langkah Kalimantan Barat menanggulangi kebakaran hutan dan kabut asap.
Untuk tanggulangi, kita sudah bentuk satgas dari sejak bencana belum terjadi. Ada satgas operasi darat, satgas water bombing, satgas asap, satgas sosialisasi, dan satgas doa.
Upaya penegakan hukum juga dijalankan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Sejak awal tahun hingga September 2015, Kepolisian Daerah Riau telah menetapkan 58 tersangka pembakar lahan dan saat ini ada 16 korporasi yang diselidiki keterlibatannya dalam pembakaran lahan. Operasi mengatasi bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan oleh pemerintah kali ini merupakan yang terbesar.
Dimana dalam operasi yang dibantu negara sahabat seperti Malaysia dan Singapore ini mengerahkan 32 helikopter dan pesawat lainnya untuk operasi udara, yaitu 21 helikopter, 7 fixed wing water bombing, dan 4 unit pesawat hujan buatan.  Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan dari 32 unit heli-pesawat terbang, 6 unit berasal dari bantuan Malaysia, Singapore dan Australia, baik untuk water boombing atau memandu water bombing.
Pada Kamis 15 Oktober water bombing dilakukan di e provinsi yakni Sumatera Selatan sebanyak 334 kali, Jambi di bagian timur dengan 10 kali, Kalteng 35 kali. Kalsel 73 kali, di Kubu Raya Kalbar sebanyak 28, dan di Riau 32 kali.
Dijelaskan, untuk operasi di darat digelar dengan melibatkan 22.146 personil tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan dan lainnya.  Dimana di Riau 7.563, Jambi 2.365 personil, Sumsel 3.694 personil, Kalbar 2.810 personil, Kalteng 3.445 personil dan Kalsel 2.269 personil. Begitu pula operasi penegakan hukum, pelayanan kesehatan dan sosialisasi juga digelar bersamaan.
Tidak mudah memadamkan hotspot yang terbakar massif dan luas. Apalagi di lahan gambut kering yang seringkali menyala kembali dan terbakar di bawah permukaan. "Pembakaran baru juga masih banyak dilakukan sehingga hotspot terus fluktuatif," katanya.  Pantauan satelit Terra-Aqua pada Jumat (16-10-2015) menunjukkan hotspot di Sumatera 769 titik yaitu di Bengkulu 7, Jambi 97, Babel 64, Kepri 1, Lampung 38, Riau 22, Sumsel 537, Sumut 3.  Sedangkan di Kalimantan 159 titik yang tersebar di Kalbar 19, Kalsel 5, Kalteng 134, Kaltim 1.

Pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk memadamkan api untuk menanggulangi bencana kabut asap tetapi hingga saat ini usaha ini masih belum berhasil secara keseluruhan dikarenakan masih ada beberapa titik api yang belum dapat dipadamkan tetapi pemerintah akan terus melakukan kerjasama baik dari pemerintah pusat dan daerah harus melakukan kerjasama dan menjalankan hubungan yang baik untuk segera memadamkan titik api agar tidak meluas dan bencana kabut asap ini dapat segera diselesaikan.

0 komentar:

Posting Komentar